Komut PTPN I: Jadikan Integritas dan GCG sebagai Pondasi Tata Kelola Perusahaan

0
74

KINNI.ID, BANDUNG — PTPN III Holding menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Center for Risk Management and Sustainability (CRMS) Indonesia untuk memperkuat komitmen dalam pencegahan dan pemberantasan segala bentuk korupsi.

Melalui seminar yang digelar PTPN Group, diharapkan dapat terus dibangun budaya kerja yang bertumpu pada integritas dan good corporate governance (GCG).

Seminar yang dilaksanakan secara hibrida di Bandung, Sabtu (4/10/2025), dihadiri seluruh komisaris serta jajaran direksi PTPN III, subholding, dan anak perusahaan. Sementara direksi subholding PTPN I, PTPN IV, dan PT Sinergi Nusantara (SGN) mengikuti kegiatan secara daring.

Materi seminar dari KPK menjadi salah satu sesi dalam agenda Rapat Komite Tata Kelola Terintegrasi di tubuh PTPN III.

Usai mengikuti seminar, Komisaris Utama PTPN I Seger Budiarjo menyatakan siap mengawal operasional tata kelola perusahaan di PTPN I. Ia mengakui, masih banyak celah yang harus diperbaiki dan ditata ulang dalam proses bisnis agar mengacu pada standar operasional sebagaimana digariskan KPK.

“Seminar ini membuka wawasan kita bersama tentang betapa krusialnya tata kelola yang tidak hanya sekadar formalitas, tetapi harus terintegrasi ke dalam setiap proses bisnis. Kami belajar dari KPK mengenai pentingnya sistem pencegahan korupsi yang efektif, juga materi dari CRMS Indonesia tentang manajemen risiko yang proaktif. Kedua hal ini adalah pondasi utama untuk menciptakan perusahaan yang tangguh dan berkelanjutan,” kata Seger Budiarjo.

Sebagai nakhoda badan pengawas perusahaan, Seger menegaskan PTPN I harus segera menindaklanjuti hasil seminar dengan fokus pada beberapa area kunci. Di antaranya peningkatan transparansi operasional dalam proses pengadaan barang dan jasa, pengelolaan aset, serta pelaporan keuangan. Seluruh format pelaporan akan didesain lebih transparan dan akuntabel untuk meminimalkan potensi penyimpangan serta menumbuhkan kepercayaan para pemangku kepentingan.

BACA JUGA :   Hari Pertama Setelah Cuti, Wali Kota Muhammad Rudi Tinjau Proyek Infrastruktur Strategis untuk Wujudkan Kota Modern dan Bebas Kemacetan

Kunci berikutnya adalah penguatan Manajemen Risiko Terintegrasi. PTPN I akan memperkuat komite manajemen risiko guna mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi risiko secara menyeluruh, tidak hanya finansial, tetapi juga operasional dan reputasi.

“Risiko itu ada di setiap sudut bisnis kita. Dengan manajemen risiko yang terintegrasi, kita bisa lebih cepat mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi nilai perusahaan,” tambah Seger.

Selanjutnya, kata Seger, aspek budaya menjadi kunci penting. Budaya perusahaan harus menjadi budaya setiap individu karyawan dan semua pihak yang terlibat dalam sistem yang ada. Mereka harus memiliki niat baik berupa integritas dan loyalitas tinggi terhadap visi dan misi perusahaan.

“Pada kunci penguatan budaya integritas ini, PTPN I akan meluncurkan program internal untuk menanamkan budaya integritas di seluruh jajaran, dari direksi hingga pekerja di lini lapangan. Program ini akan mencakup edukasi, pelatihan, dan pengawasan yang ketat terhadap kode etik dan standar perilaku,” ujarnya.

Seger Budiarjo menegaskan, pengelolaan perusahaan yang baik merupakan kunci untuk mencapai kinerja optimal. Dengan mengadopsi tata kelola terintegrasi, ia yakin PTPN I tidak hanya akan tumbuh sebagai perusahaan yang sehat secara finansial, tetapi juga sebagai entitas bisnis yang bermartabat dan berkontribusi positif bagi bangsa.

Dua pemateri utama dihadirkan untuk memberikan wawasan mendalam tentang pencegahan korupsi dan manajemen risiko. Eko Marjono dari KPK memaparkan pentingnya sistem pencegahan korupsi yang terstruktur di dalam perusahaan. Ia menekankan, integritas harus menjadi budaya yang tertanam kuat, bukan sekadar aturan. Eko memberikan panduan praktis tentang cara perusahaan mengidentifikasi celah yang rentan terhadap korupsi serta langkah proaktif untuk menutupnya.

Pemateri kedua, Antonius Alijoyo dari CRMS Indonesia, membahas strategi manajemen risiko terintegrasi. Ia menjelaskan, tata kelola yang efektif adalah yang mampu mengelola risiko di seluruh aspek bisnis—mulai dari operasional, finansial, hingga reputasi. Menurutnya, tata kelola yang baik bukan hanya mencegah hal buruk terjadi, tetapi juga membuka peluang baru untuk pertumbuhan berkelanjutan.

BACA JUGA :   DPW NasDem Rayakan Ulang Tahun Ketum, Masyarakat Lampung Mendoakan

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, jajaran komisaris dan direksi PTPN Group berkomitmen menindaklanjuti setiap rekomendasi yang disampaikan. Fokus utamanya adalah mewujudkan tata kelola yang tidak hanya patuh terhadap regulasi, tetapi juga adaptif terhadap dinamika bisnis dan tantangan zaman.

Melalui seminar ini, PTPN III (Persero) menegaskan perannya sebagai pemimpin klaster yang berupaya meningkatkan standar tata kelola dan integritas di seluruh anak perusahaannya. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang bersih, profesional, dan mampu bersaing di tingkat global. (Kn/*)

Facebook Comments