PTPN I Hadir, Ekonomi Wilayah Cair

0
109

KINNI.ID, JAKARTA – Senja menjelang, suasana Desa Kauman Lor, Kecamatan Pabelan, Semarang, tampak semarak. Jejeran bendera merah putih, umbul-umbul, dan ratusan lampu LED merah putih membentuk lorong cahaya. Nuansa Agustusan di desa penyangga Kampoeng Kopi Banaran, PTPN I Regional 3, itu mencerminkan rasa hormat warga kepada para pahlawan kemerdekaan.

Rasa itu juga dirasakan Sugeng (85), tetua kampung yang masih aktif berniaga dengan warung sembakonya. Selain sembako, ia juga menyediakan kopi, minuman lain, dan gorengan. Warung kecil dengan meja dan bangku di terasnya itu menjadi tempat warga bercengkerama sambil menikmati kopi khas Banaran.

Sugeng dibantu Abdul, keponakannya, yang mengurus hampir semua pekerjaan fisik. Ia lebih berperan sebagai “owner” yang kerap berbagi pengalaman berdagang dan kisah perjalanan usahanya.

“Untuk diketahui ya, Dul (Abdul). Dulu, warga sini ladangnya bukan kopi. Lalu, orang Belanda buka kebun kopi di Banaran itu. Setelah kopinya berbuah, mereka juga buat pabrik (sekarang Pabrik Kopi Banaran PTPN I Regional 3). Nah, mulai saat itu masyarakat ikut nanam kopi yang bibitnya dari mereka. Juga cara mengolahannya diajari mereka. Itu cerita sehingga kita bisa nikmati kopi sedap ini,” kata Sugeng sambil menyeruput kopi hangat buatan Abdul.

Kopi Banaran, yang kini dikenal sebagai salah satu kopi berkualitas tinggi dari Jawa, awalnya dikelola Belanda. Sejak 1911, PTPN I Regional 3 (sebelumnya PTPN IX) menjadi penerus, namun kini masyarakat sekitar juga ikut mengembangkan. Di wilayah Semarang Utara yang bersuhu sejuk, seperti Pabelan dan Jambu, kebun-kebun kopi rakyat telah tumbuh dengan kualitas relatif setara produksi PTPN I.

Meski tanpa kelas khusus budidaya kopi, masyarakat banyak belajar dari pengalaman bekerja di perkebunan. Pengetahuan yang mereka serap di kebun kemudian ditularkan kepada saudara-saudara mereka di luar perkebunan, sehingga ekosistem ekonomi baru pun terbentuk.

BACA JUGA :   PLN dan Balai Besar TNBBS Gelar Aksi Bersihkan Sampah di Ruas Jalan Sanggi-Bengkunat

Kisah Sugeng hanyalah satu dari ribuan cerita nyata tentang peran PTPN I dalam menciptakan ruang ekonomi baru. Di Lampung, misalnya, masyarakat mengenal karet dari PTPN I. Kini, luas tanaman karet di provinsi itu lebih dari 130 ribu hektar. Hal serupa terjadi di daerah lain dengan komoditas berbeda.

“PTPN I sebagai agen perubahan itu nyata. Banyak transfer of knowledge ketika kami membuka kebun di suatu tempat yang kebanyakan di daerah terpencil. Di situlah kemudian tumbuh pusat-pusat ekonomi baru, transaksi semakin massif karena uang beredar semakin besar, dan pasar bebas akan datang sendiri berdasar supply and demand. Peran itu salah satu yang membuat kami (PTPN I) tetap dicintai masyarakat,” kata Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, di Jakarta, Sabtu (16/8/2025).

Menurut Teddy, kehadiran PTPN I di daerah tidak hanya menjalankan bisnis perkebunan, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi yang dinamis.

“Kehadiran Unit Kerja secara langsung menyerap ribuan tenaga kerja lokal, baik sebagai karyawan tetap maupun pekerja harian. Hal ini secara signifikan mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, menambahkan pihaknya berkomitmen terus berinvestasi dan berkontribusi dalam memajukan perekonomian daerah melalui sinergi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha lokal.

“Ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subiyanto, meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur. Membangun dari desa dan dari bawah pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan,” kata Aris. (Kn/*)

Facebook Comments