Kinni.id, Bandar Lampung – Minimnya wali murid untuk mendaftarkan putra putri tercinta disekolah negeri ini bukan karena sistem Pendidikan yang ada di sekolah tersebut tidak baik, tetapi ada beberapa factor yang mempengaruhi, salah satunya tingkat disiplin dan sistem pembelajaran yang beberda.
Factor-faktor yang mendorong orang tua enggan mendaftarakan disekolah negeri yaitu, tingkat disiplin yang masih menjadi perhatian utama para orang tau, dimana sekolah swasta memiliki disiplin kepada para murid, bahkan bukan hanya kepada murid tetapi kepada para dewan guru.
Selain itu, fasilitas sekolah negeri dianggap kurang memadai, seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang kelas dibandingkan sekolah swasta unggulan.
Banyak sekolah swasta (terutama yang bertaraf nasional/internasional) menawarkan kurikulum ganda (Nasional dan Cambridge/IB) serta kegiatan ekstrakurikuler yang lebih bervariasi dan profesional.
Sekolah swasta juga dianggap lebih fokus pada pengembangan karakter, bahasa asing (terutama Bahasa Inggris), dan teknologi digital.
Selain itu, kelas di sekolah negeri seringkali sangat padat (40 siswa atau lebih per kelas), menyebabkan kurangnya perhatian individu dari guru ke siswa. Orang tua menginginkan sekolah dengan rasio guru-murid yang lebih kecil agar proses belajar lebih efektif.
Sistem Zonasi dalam PPDB Sekolah Negeri, kebijakan zonasi membuat siswa hanya bisa masuk ke sekolah negeri sesuai wilayah domisili, sehingga banyak siswa berprestasi tidak bisa masuk sekolah favorit meskipun nilainya tinggi.
Orang tua merasa sistem zonasi membatasi pilihan mereka, sehingga beralih ke sekolah swasta yang tidak terikat zonasi.
Bahkan saat ini orang tua memiliki kemampuan ekonomi yang meningkat, bahkan sebagian orang tua dari kalangan menengah ke atas memilih sekolah swasta karena mampu membayar biaya lebih tinggi demi mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Sekolah swasta juga dianggap sebagai status sosial tertentu bagi sebagian masyarakat.
Bukan hanya memiliki kekampuan, tetapi alasan nilai agama atau kepercayaan, dimana orang tua memilih sekolah swasta berbasis agama yang sejalan dengan nilai-nilai keluarga, karena sekolah negeri dinilai terlalu umum atau netral secara keagamaan.
Bahkan, kedisiplinan dan budaya sekolah, beberapa orang tua menilai bahwa disiplin dan budaya belajar di sekolah swasta lebih terjaga, termasuk etika guru, kesopanan siswa, dan kontrol terhadap penggunaan gawai.
Pengalaman atau Reputasi Pribadi, orang tua yang pernah mengalami buruknya pengalaman di sekolah negeri (baik dari anak sebelumnya atau opini publik) cenderung tidak mau mengulangi pengalaman tersebut. Reputasi sekolah negeri yang tidak merata memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Dari hasil riset pendukung, menurut sejumlah studi dan laporan PPDB, di kota-kota besar, terjadi peningkatan jumlah siswa ke sekolah swasta karena faktor zonasi dan reputasi sekolah negeri yang dinilai kurang merata.
Bila melihat ini, akademisi Institut Teknologi Bisnis dan Bahasa Dian Cipta Cendikia (ITBA-DCC) PSDKU Kotabumi, Emir Fajar Saputra mengatakan, pemeirntah harus mulai sejak dini melakukan pembenahan dari sistem yang ada, agar minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri kembai muncul.
Dimana bila sekolah negeri ditopang dengan infrastruktur yang memadai, ruang praktek, sistem pembelajaran yang terarah, terukur dan memadai, tidak mungkin orang tidak mendaftarkan anak-anaknya disekolah negeri, bila faktor-faktor tersebut sudah terpenuhi.
“Bila kita melihat sekolah swasta memiliki sistem yang baik, dengan memetakan jumlah siswa dalam satu kelas, dimana setiap kelasnya tidak lebih dari 30 siswa, berkisar 20-25 siswa dan didukung oleh dua orang tenaga pengajar. Artinya sistem pembelajaran di sekolah swasta lebih baik dibandingkan di negeri,” kata Emir.
Ia menjelaskan, bahwa pemerintah harus bisa mendukung semua yang dibutuhkan oleh para murid, seperti ruang belajar yang nyaman, tidak terlalu penuh, dan masih banyak lainnya.
Dimana biasanya sekolah negeri dapat menampung siswa setiap kelasnya 30-40 siswa, dimana itu dinilai tidak efektif bahkan malah menjadi lebih bising dan berisik, Pelajaran yang didadapatkan oelh murid juga tidak maksimal. Bila jumlah murid 20-25 siswa dalam satu kelas, itu artinya anak-anak dapat lebih efektif dan lebih menangkap apa yang diterima oleh para murid.
“Jadi bila murid lebih sedikit bisa dapat lebih nyambung, ketimbang memilih jumlah siswa lebih banyak dikelas,” ungkapnya
Fenomena yang terjadi dikota bandarlampung, dan beberapa daerah di Indonesia, yang mendapatkan muridnya kurang dari 10 murid untuk ajaran baru, ini dinilai pemerintah harus melakukan evalusasi secepatnya. Bila tidak dilakukan evaluasi dengan cepat, bukan tidak mungkin selama 5-10 tahun kedepan sekolah negeri banyak yang tutup lantaran tidak memiliki murid baru.
Dengan demilikian, bila sudah dilakukan evaluasi bisa dilihat dimana yang kekurangan, dimana sistem yang harus dibenahi. Jangan sampai berlarut-larut.
Emir menjerlaskan, Sistem saat ini sudah sangat baik, tetapi harus lebih ditingkatkan lagi, guna meyakinkan para orang tua bahwa perlengkapan dari laboratorium, ruang kelas, tenaga pengajar, sistem pembelajaran sudah sangat baik dan berkembang dari tahun-tahun beirkutnya.
Media promosi juga harus dilakukan oleh pihak sekolah untuk bisa mengajak para pengunjung dan juga orang tua untuk mendaftarkan anak-anaknya kesekolah negeri dengan fasilitas yang lengkap dan memadai.
“Media promosi juga sangat penting dan pengaruhnya besar. Karena bisa dilihat orang banyak, dan juga bisa mengajar para masyarakat untuk mendaftarkan anak-anaknya disekolah negeri,” ungkapnya, lulusan IIB Darmajaya itu.
Akademisi ini mengharapkan, pemerintah harus bisa duduk bersama mencari solusi, agar kedepan kejadian seperti kurangnya minat pendaftar disekolah negeri ini tidak terjadi lagi diajaran baru di tahun-tahun berikutnya. (Kn/*)



