KINNI.ID, JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) memperkuat transformasi bisnis melalui hilirisasi komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah. Strategi ini dilakukan dengan mengembangkan portofolio produk teh, kopi, tembakau, dan kakao, serta memperluas pemanfaatan hasil pengolahan tebu untuk mendukung industri dan sektor energi.
Pengembangan produk tersebut diwujudkan melalui sejumlah merek unggulan, antara lain Teh Walini, Goalpara, Rolas, dan Gunung Dempo; Kopi Banaran, Rollas, dan Jampit; serta cerutu Golden Djawa dan Deli. Selain itu, PTPN I mengembangkan produk olahan cokelat berbasis kakao dan bioetanol berbahan baku molase atau tetes tebu.
Sekretaris Perusahaan PTPN I (Persero), Aris Handoyo, mengatakan hilirisasi merupakan langkah strategis perusahaan untuk mengoptimalkan potensi komoditas perkebunan, memperkuat daya saing produk, serta meningkatkan nilai ekonomi dari hulu hingga hilir.
“Hilirisasi bukan sekadar mengolah bahan baku menjadi produk jadi, melainkan membangun rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari produksi di kebun, pengolahan, pengembangan merek, hingga pemasaran. Dengan demikian, potensi komoditas perkebunan dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan dan masyarakat,” ujar Aris.
Pada komoditas kopi, PTPN I mengembangkan merek Banaran, Rollas, dan Jampit. Salah satu upaya memperkuat pasar dilakukan melalui inovasi produk dan kemasan Kopi Banaran yang diproduksi PTPN I Regional 3 di Semarang, termasuk menghadirkan kemasan sachet untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Di sektor teh, perusahaan memperkuat portofolio melalui empat merek, yakni Walini, Goalpara, Rolas, dan Gunung Dempo. Sementara itu, komoditas tembakau diolah menjadi produk cerutu dengan merek Golden Djawa dan Deli. Adapun kakao dikembangkan menjadi produk cokelat untuk memperluas penetrasi ke industri makanan.
PTPN I juga mengembangkan bioetanol berbasis molase sebagai bentuk diversifikasi pemanfaatan hasil pengolahan tebu. Inisiatif ini membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan.
Menurut Aris, pengembangan hilirisasi dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kesiapan kapasitas pengolahan, inovasi produk, serta kebutuhan dan potensi pasar.
“Ke depan, kami terus mendorong inovasi produk, optimalisasi aset, penguatan kapasitas pengolahan, dan perluasan pasar. Orientasinya bukan hanya meningkatkan jumlah produk, tetapi membangun bisnis hilir yang kompetitif, berkelanjutan, dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perusahaan,” kata Aris.
Melalui penguatan hilirisasi tersebut, PTPN I mendorong transformasi bisnis perkebunan dari produsen bahan baku menjadi pengembang produk bernilai tambah. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya saing perusahaan, memperluas aktivitas ekonomi, serta mendukung agenda nasional dalam pengembangan industri pangan dan energi. (Kn/*)



