Kinni.id, Batam – Terkait Daerah Aliran Sungai (DAS) baloi sebagai mana kegiatan penimbunan yang berada dilokasi Daerah Aliran Sungai (DAS), warga menolak keras kegiatan Penimbunan di Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam,Provinsi Kepulauan Riau(KEPRI).
Ketua RT:05,RW:06 menyampaikan kepada media, pihaknya berserta warga sangat khawatir terjadinya musibah banjir ketika ujan deras dan lama yang diakibatkan penimbunan. Harapan kita cepatlah di gali timbunan itu saat di hubungi awak media ini.
Tak sampai di situ awak media ini juga mendatangi kantor Lurah Baloi guna untuk konfirmasi. Namun tidak ada di tempat. “Saya tidak berani pak, memberikan tanggapan coba aja sama pak Lurah nya,” ungkap Seklurnya.
Bahkan awak media mencoba berulangkali menghubungi melalui sambungan Whatsapp, namun tidak kunjung di angkat.
Bahkan awak media mencoba menghubungi wakil Walikota Batam, juga wakil kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, melalui pesan whatsapp. Namun tidak ada tanggapan. Bahkan awak media ini juga mencoba minta tanggapan ke Kadis kominfo melalui pesan What sapp Kamis, (8/5/2025). pak Rudi mengirimkan pesan, “coba langsung ke pak Suhar ya”.
Ketua Rt dan warga menyatakan agar pihak terkait yang telah terlanjur ditimbun agar di lakukan pembongkaran kembali, sebelum musibah banjir terjadi melanda warga karena terjadinya penyempitan kali.
Pihaknya juga meminta dalam pembongkaran timbunan bisa dipercepat dengan segera mengingat saat ini musim penghujan sehingga menimbulkan kekhawatiran warga akan banjir di perumahan Kezia Baloi.
Akibat penimbunan di bantaran sungai di linkungan pemukiman warga bukan hanya khwatir akan banjir terjadi bila air kali meluap, akan tetapi dapat berdampak juga keretakan bangunan rumah yang ada sehingga menimbulkan kerusakan.
Ketua Rt.05 Rw.06 juga menjelaskan dalam hal penimbunan pihaknya, termasuk warga tidak memahami maksud dan tujuan dalam penimbunan bataran kali yang ada tanpa pemberitahuan atau sosialisasi dari pihak terkait, termasuk Lurah maupun Pemerintah Kota Batam.
Ketua rt juga menyampaikan sejak persoalan penimbunan ini di suarakan oleh warga tampak kegiatan pekerja penimbunan saat ini tampak berhenti. Semoga protes dan permintaan warga dapat didengar oleh pihak-pihak terkait baik itu pelaksana, maupun Pemerintah Kota Batam berserta unsur dinas terkait seperti lingkungan hidup.
Terpisah ketika turunnya hujan beberapa hari yang lalu, Salah satu warga emak-emak mengatakan, “saya hampir sepuluh tahun tinggal di Perumahan pasir putih baru kali ini terdampak banjir rumah saya, elektronik saya pada rusak karna air meluap masuk kerumah,” ungkapnya kemedia ini. Sambil menikmati sarapan pagi dan segelas kopi.(Iwan)



