KINNI.ID, BANDAR LAMPUNG – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Intan Lampung menggelar Seminar Nasional Economic Symposium bertema “Membangun Ekosistem Ekonomi Terdidik dan Ekonomi Digital Indonesia di Era Bonus Demografi”, Senin (23/9/2025).
Acara yang berlangsung di Ballroom UIN RIL, Jalan Ryacudu, Sukarame, Bandar Lampung ini menghadirkan narasumber Ferry Irwandi, pembuat konten, selebritas internet, sekaligus aktivis. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung turut menghadiri kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Ferry mengatakan dirinya diundang untuk membicarakan ekosistem ekonomi terdidik dan ekonomi digital Indonesia di era bonus demografi. Menurut dia, bidang ini memang menjadi fokus utama dalam pendidikan.
“Nama saya Ferry Irwandi umur saya 34 tahun, anak saya dua, saya lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Central Queensland, terus kuliah S2-nya di Australia dan mendirikan Malaka Project yang sekarang mungkin menjadi salah satu media yang beredar di masyarakat,” kata Ferry.
Ia juga menilai Lampung sebagai daerah yang luar biasa karena banyak melahirkan tokoh penting bagi bangsa.
“Provinsi Lampung ini selalu menjadi tempat yang sangat luar biasa bagi saya, dan jangan sampai Lampung dikenal sebagai begal. Ada hal-hal yang baik, seperti Sri Mulyani lahir di Lampung, dan masih banyak lagi seperti Erick Thohir, Aburizal Bakrie, dan lainnya,” ujarnya.
Ferry menambahkan, ilmu ekonomi tidak hanya berbicara soal uang, angka, atau soal kaya dan miskin. Menurutnya, ekonomi adalah tentang bagaimana manusia menjalani hidup.
“Bayangkan, dalam satu jam manusia bisa membuat dua ribu pilihan dalam hidup, mau ke kiri atau kanan, mau cuci muka atau tidak, mau langsung pergi atau pulang dulu. Semua hidup kita itu soal pilihan. Untuk itulah ekonomi tercipta supaya manusia bisa memilih mana yang terbaik untuk hidupnya. Untuk membangun ekonomi yang kuat, kita butuh negara yang mempunyai fundamental ekonomi yang kuat. Dan fundamental ekonomi yang kuat harus dibangun dengan mereka yang terdidik dengan baik,” tutur Ferry.
Ia berharap seminar ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berkembang, sekaligus berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Fjr)



