Diskusi Buku di Kotabumi, Djuhardi: Isbedy ‘Gila’ Seperti Putu

0
260

Kinni.id, Kotabumi – Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS dalam buku Menungguku Tiba dinilai multi tafsir. “Siapa menunggu itu, apakah aku ataukah yang lain?” demikian rangkuman diskusi buku terbaru Isbedy yang diterbitkan Lampung Literature (Juni 2025) di to.KOBU.ku – KL Coffee Indonesia, Kelapa Tujuh, Kotabumi, Lampung Utara, Jumat (19/9) malam.

Diskusi menghadirkan pemantik Djuhardi Basri, dosen Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), dan Meutia Rachmatia, Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UMKO. Acara dimoderatori Fitri Angraini, dosen UIN Raden Intan Lampung, dan dihadiri sekitar 25 peserta, mulai dari mahasiswa hingga seniman dan pemerhati seni, di antaranya Nani Rahayu, Maulana Imau, Milyar, dan Ayu Permata Sari.

Meutia menilai puisi Isbedy mengangkat tema beragam dengan arus utama kerinduan, penantian, kehilangan, dan tema sosial. “Yang menarik dari puisi Isbedy, ia meninggalkan pertanyaan setelah dibaca. Seperti siapa yang kehilangan, siapa yang rindu, atau penantian itu. Apakah aku penyair atau bukan aku penyair,” ujarnya.

Ia mencontohkan puisi Saatnya Kunikmati. “Kalau Djuhardi membahas pohon ngaceng, maka bagi saya menarik kalimat ‘aku tak sekokoh batang, aku pilih ini pembaringan’. Itu relevan jika bicara penantian dan kerinduan, dan setiap pembaca bisa menafsir sesuai perspektifnya,” kata Meutia.

Sementara itu, Djuhardi menyebut pilihan kata yang tepat adalah pertaruhan besar seorang penyair, dan Isbedy berhasil melakukannya. “Mendengar Isbedy menerbitkan buku, pertanyaannya ada apa? Ternyata Isbedy bukan saja produktif, tapi juga selalu ada tawaran yang lain dan baru,” ujarnya.

Menurut Djuhardi, dari judul saja Isbedy menempatkan kata yang pas dan multi tafsir. “Setelah saya membaca, ternyata pada dasarnya kita ini sedang menunggu. Siapa yang menunggu; akukah atau mautkah yang menunggu?” katanya.

BACA JUGA :   PTPN VII Bantu Ambulance ke Pemkab Lamsel

Ia juga membandingkan produktivitas Isbedy dengan Putu Wijaya. “Keduanya ‘gila’ menternakkan karya,” ujar Djuhardi yang juga penyair dan sutradara Teater Sangkar Mahmud UMKO.

Diskusi semakin menarik saat koreografer Ayu Permata Sari bertanya apakah seniman harus tetap menjaga “gangguan” dalam diri untuk terus berkarya atau mencari zona aman. Menanggapi itu, Isbedy menegaskan pilihannya. “Bagi seniman, kegelisahan dan gangguan itu membuat seniman terus mencari dan berkarya,” ujarnya.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh Djuhardi Basri, Meutia Rachmatia, Shera, Alif, Ayu Permata Sari, dan Isbedy sendiri yang membacakan Sajaksajak Pendek Ditulis Ketika Kau Menungguku Tiba. (Kn/*)

Facebook Comments