MBG di Bandar Lampung Diduga Sebabkan Keracunan Siswa

0
1590

Kinni.id, Bandar Lampung – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang semestinya menunjang kesehatan siswa justru berujung petaka. Sejumlah siswa SMPN 31 Campang Raya dan SDN 2 Campang Raya, Bandar Lampung, mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu MBG pada Kamis (28/8/2025) siang.

Gejala yang muncul beragam, mulai dari mulas, mual, diare, pusing, hingga muntah-muntah. Insiden ini memicu kekhawatiran orang tua dan desakan agar program dihentikan sementara.

Salah satu orangtua murid, Rudi Safei (45), warga Perumahan Nusantara Permai, mengatakan anaknya, Janes, siswa kelas 2 SMPN 31, mulai sakit setelah menyantap MBG di sekolah.

“Janes mulas, mual, dan diare saat Magrib. Saya beli obat mencret di warung untuk mencegah. Anak saya yang satu lagi di SDN 2, Askha, juga dapat MBG tapi dibawa pulang karena tidak suka lauknya. Dia tidak apa-apa,” ujar Rudi, Sabtu (30/8/2025).

Menurut dia, kondisi Janes memburuk pada Jumat (29/8/2025) hingga tidak masuk sekolah dan buang air besar tujuh kali. “Saya sudah beri obat dari apotek,” tambahnya. Rudi juga menyebut ada tiga teman sekolah Janes yang mengalami muntah-muntah.

Tim penyelenggara MBG mengakui adanya masalah pada menu yang dibagikan. Melalui pesan di grup WhatsApp orangtua murid, mereka meminta maaf dan mengimbau agar makanan tidak dikonsumsi.

“Setelah dilakukan pengecekan, ditemukan bahwa ayam yang dibagikan dalam menu hari ini tidak layak dikonsumsi,” demikian isi pesan tersebut. Pihak penyelenggara berjanji melakukan evaluasi agar kejadian tidak terulang.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bandar Lampung, Mulyadi Syukri, membenarkan adanya dugaan keracunan massal akibat MBG. Ia menerima laporan dari Kepala SMPN 31 pada hari yang sama.

BACA JUGA :   Ketua DPRD Lampung Harap Masjid Raya Al Bakrie Jadi Pusat Peradaban Umat

“Banyak siswa tidak masuk sekolah karena mengeluhkan gejala keracunan. Pihak sekolah sudah berkoordinasi dengan puskesmas untuk penanganan,” kata Mulyadi.

Meski gejala pada siswa SMP terbilang ringan, beberapa murid SDN 2 sempat dirawat di RS Urip Sumoharjo. “Tercatat ada tiga anak yang dirawat, dua kakak beradik dan seorang saudaranya, meskipun tidak sampai rawat inap,” ujar Mulyadi.

Ia menjelaskan, SMPN 31 dan SDN 2 baru dua hari terakhir menerima manfaat program MBG. Dapur gizi yang menyalurkan makanan berasal dari Yayasan Asri Amanah Barokah di Jalan Pangeran Tirtayasa, Sukabumi, Bandar Lampung.

Disdikbud menegaskan hanya sebagai penerima manfaat program. “Anak-anak didik kami menjadi korban. Kami siap bertanggung jawab bersama Badan Gizi Nasional,” kata Mulyadi.

Sebagai tindak lanjut, Disdikbud telah berkoordinasi dengan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang terlibat dalam program MBG. “Kami tidak berwenang terhadap dapur gizi. Itu kewenangan SPPI,” ujarnya.

Sekolah juga sudah menyerahkan sampel makanan ke BPOM untuk diuji laboratorium. “Harapan kami, sebelum ada hasil uji sampel, program MBG dari dapur gizi tersebut sebaiknya dihentikan sementara,” pungkas Mulyadi. (Kn/*)

Facebook Comments