Provinsi Lampung Raih Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi se-Sumatera

0
355

Kinni.id, Bandar Lampung – Kondisi Makro Ekonomi Provinsi Lampung hingga akhir bulan April 2025, PDRB Triwulan I 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi se-Sumatera, yaitu 5,47% (yoy). Nilai ini melampaui rata-rata pertumbuhan nasional 4,87% (yoy) dan regional Sumatera 4,85% (yoy). Keberhasilan ini mencerminkan resiliensi dan momentum pemulihan ekonomi yang kuat, yang tidak lepas dari peran sektor Lapangan Usaha Jasa Lainnya (tumbuh 9,66% yoy) dan kinerja ekspor (tumbuh 12,96% yoy) yang terus membaik. Menurut rilis yang diterima kinni.id, Senin (2/6/25).

Keberhasilan juga diperoleh pada sisi Perdagangan Internasional. Neraca Perdagangan Maret 2025 mencatatkan kinerja baik dengan Surplus Perdagangan sebesar US$412,09 juta. Namun tetap perlu waspada terhadap tantangan di masa depan yaitu potensi penerapan tarif resiprokal 32% Amerika Serikat ke depan dan penurunan harga komoditas global yang menjadi unggulan ekspor Lampung (CPO dan kopi). Kinerja Ekspor tumbuh 11,61% (mtm) ditopang industri pengolahan, pertambangan, dan pertanian. Sementara itu sektor Impor mengalami kontraksi –41,49% (mtm) akibat penurunan impor barang modal dan bahan baku serta pembatasan importasi beras dan gula untuk konsumsi.

Hingga 30 April 2025, Provinsi Lampung mengalami inflasi 2,80% (yoy) dan 1,19% (mtm). Kenaikan inflasi tahunan didorong oleh peningkatan harga emas sedangkan kenaikan inflasi bulanan akibat normalisasi tarif listrik seiring berakhirnya program subsidi tarif listrik 50% untuk pelanggan rumah tangga.

Kinerja APBN Lampung Hingga 30 April 2025 Resilien dan Akseleratif

Realisasi APBN hingga 30 April 2025 menunjukkan tren pertumbuhan Pendapatan Negara. Tercatat pendapatan sebesar Rp3,59 triliun, atau 32,35% dari target, tumbuh 30,83% (yoy) masuk ke dalam rekening kas negara. Pertumbuhan secara tahunan ini utamanya didorong oleh akselerasi pendapatan Bea Keluar (832,77% yoy), disusul Pajak Lainnya (771,74% yoy), dan Cukai (174,06% yoy).

BACA JUGA :   Kunker di Lampung, Mendag Sebut Subsidi Transportasi Jaga Stabilitas Harga di Akhir Tahun

Ditinjau dari jenis pendapatan, Penerimaan Perpajakan menghasilkan pendapatan sebesar Rp3,07 triliun (30,67% dari target). Penerimaan Perpajakan tersebut terdiri dari Pajak Dalam Negeri sebesar Rp1,96 triliun (tumbuh 2,04%, yoy) dan Pajak Perdagangan Internasional sebesar Rp1,12 triliun (tumbuh 240,41%, yoy). Secara detail, dengan meningkatnya kinerja perdagangan internasional Lampung hingga April 2025, Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Sumatera Bagian Barat membukukan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) sebesar Rp691,93 miliar (tumbuh 8,6%, yoy) dan Pajak Penghasilan Ekspor sebesar Rp62,8 miliar (tumbuh 1,52%, yoy). Dari sisi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), penerimaan negara berhasil tercapai sebesar 521,20 miliar, atau 47,85% dari target, tumbuh 3,93% (yoy).

Belanja Negara telah terealisasi sebesar Rp9,87 triliun, atau 31,11% dari pagu, turun -3,37% (yoy). Rincian Belanja Negara yaitu Belanja K/L sebesar Rp2,13 triliun, atau 24,58% dari pagu, turun -31,38% (yoy) seiring kebijakan efisiensi anggaran, sedangkan Transfer ke Daerah (TKD) telah tersalur sebesar Rp7,74 triliun, atau 33,57% dari target salur, naik 8,87% (yoy). Fokus terhadap TKD ini menunjukkan bahwa dukungan fiskal untuk urusan daerah Lampung tetap menjadi prioritas. Ke depan, efisiensi anggaran yang telah dilaksanakan Kementerian/Lembaga akan ditransmisikan kembali ke regional Lampung menjadi belanja yang langsung menyentuh masyarakat melalui program prioritas pemerintah antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sekolah Rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, dan lainnya.

Percepatan Penyaluran TKD ditopang oleh penyaluran Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp5,13 triliun, tumbuh 4,26% (yoy); Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp142,48 miliar, tumbuh 61,48% (yoy); Dana Alokasi Khusus Nonfisik (DAK NF) sebesar Rp1,43 triliun, tumbuh 36,13% (yoy); Dana Desa Rp1 triliun, terkontraksi –2,12% (yoy); dan Insentif Fiskal Rp26,56 miliar, tumbuh 48,17% (yoy).

BACA JUGA :   Kadisnaker Lampung Buka Bimbingan Teknis Jaminan Sosial

Defisit Anggaran terus melanjutkan tren menyempit, pada akhir bulan April tercatat defisit sebesar Rp6,27 triliun, atau menyempit -15,97% (yoy). Indikator ini mencerminkan kinerja positif penerimaan yang ditopang Bea Keluar Pungutan Ekspor serta pengelolaan belanja yang lebih efisien. Defisit menggambarkan peran APBN sebagai peredam guncangan (shock absorber) atas dampak ketidakpastian perekonomian global untuk menjaga daya beli masyarakat Lampung. (Kn/*)

Facebook Comments