KINNI.ID, BANDAR LAMPUNG – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) membantah tuduhan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung yang menyatakan bahwa banjir bandang di Kelurahan Panjang Utara disebabkan oleh penutupan saluran air di area pelabuhan.
General Manager Regional 2 Panjang, Imam Rahmiyadi, menegaskan bahwa tembok pengaman pelabuhan telah dibangun sejak 2010 dan tidak menghalangi drainase.
Menurut Pelindo, banjir pekan lalu dipicu oleh curah hujan tinggi yang membawa lumpur dan pasir dari perbukitan Kecamatan Panjang.
Imam menjelaskan, saluran air dari permukiman warga ke laut berada di luar area pelabuhan dan tidak terhalang tembok pengaman.
“Jalur drainase dari pemukiman warga menuju ke laut berada di luar area pelabuhan dan tidak bersinggungan dengan tembok pengaman,” ujar dia di Bandar Lampung, Rabu (23/4/2025).
Pelindo juga menyatakan kesiapannya berkolaborasi dengan Pemkot untuk perbaikan drainase guna mitigasi bencana.
“Pelindo siap dan terus berkolaborasi untuk membantu pembenahan drainase di sekitar kawasan Pelabuhan. Ini bentuk komitmen kami untuk bersinergi dengan stakeholder di Bandar Lampung, khususnya wilayah Panjang guna mendukung upaya mitigasi bencana secara kolaboratif” jelas Imam.
Sebaliknya, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menuding penutupan saluran air di wilayah Pelindo sebagai penyebab banjir.
Eva menyatakan bahwa gorong-gorong tersumbat dan air tidak mengalir lancar akibat pembangunan di atasnya.
“Banyak gorong-gorong dan selokan tertutup bangunan. Ditambah, saluran air di wilayah Pelindo tertutup, sehingga air tidak mengalir lancar. Ini berbeda dari kondisi biasanya,” ujar Eva Dwiana didampingi Kapolresta Kombes Pol Alfret Jacob Tilukay dan Dandim 0410/KBL Letkol Arh Tan Kurniawan, Senin (21/4/2025) lalu.
Pemkot berencana berkoordinasi dengan Pelindo untuk penataan saluran air. “Kami akan bekerja sama dengan PT Pelindo sebagai perusahaan negara untuk mencari solusi terbaik melalui kolaborasi,” kata Eva.
Banjir yang terjadi pada 21 April 2025 mengakibatkan genangan setinggi dada di sejumlah titik dan menewaskan tiga orang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung telah mengevakuasi korban dan mendirikan posko kesehatan untuk penanganan medis.
Eva Dwiana optimistis kolaborasi lintas instansi dapat mengatasi banjir dan mencegah terulangnya kejadian serupa.
*2.371 KK TERDAMPAK*
BPBD Provinsi Lampung mencatat sebanyak 2.371 kepala keluarga (KK) terdampak banjir di Bandar Lampung pada Senin, 21 April 2025.
“Sebanyak 2.371 KK di Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, terdampak banjir ini,” kata Humas BPBD Provinsi Lampung Wahyu Hidayat pada Selasa (22/4/2025).
Tragisnya, tiga warga Kelurahan Panjang Utara meninggal dunia akibat terseret banjir, yaitu Piyan (15), Diding (45), dan Kunawati (59).
“Ketiga jenazah telah dievakuasi oleh Tim Reaksi Cepat BPBD dan dibawa ke RSUD A Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung,” ujar Wahyu.
Ia menyampaikan bahwa banjir ini merupakan kejadian banjir bandang keempat di Bandar Lampung sepanjang tahun 2025, setelah kejadian pada Januari dan Februari.
Banjir bandang tidak hanya terjadi di Bandar Lampung, tapi juga melanda beberapa wilayah di Provinsi Lampung, meski Kota Bandar Lampung menjadi salah satu yang paling parah terdampak.
“Banjir juga terjadi di Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, dan Lampung Selatan dengan berbagai lokasi terdampak di masing-masing daerah,” kata Wahyu. (KN/*)



